Kronologi Penyiraman Air Keras pada Aktivis KontraS
Pada malam 12 Maret lalu di Jalan Talang, Jakarta Pusat, dua warga sipil bernama Muhammad Hidayat dan Pajri menjadi saksi detik-detik aktivis KontraS, Andrie Yunus, disiram air keras oleh anggota Denma BAIS TNI. Kejadian tragis ini meninggalkan kesaksian yang mencekam dari para saksi tentang aksi kekerasan tersebut.
Momen Dramatis di Jalan Talang
Saat penyiraman air keras terjadi, Hidayat bersama Pajri dan teman-teman lain berada di pos keamanan. Mereka mendengar teriakan minta tolong dan berusaha mendekati Andrie. Andrie sendiri dalam kondisi kesakitan dan telah disiram air keras, membuatnya telanjang dada. Penampilan fisik yang sudah rusak membuat saksi-saksi semakin terguncang dengan kejadian tragis ini.
Dalam upaya mengejar pelaku yang kabur, Hidayat berusaha menggunakan motor milik Andrie yang masih terdapat cairan air keras di bagian kepala hingga jok yang sudah robek. Meskipun usahanya tidak berhasil menangkap pelaku, namun ia memberikan kesaksian mengenai perburuan yang penuh kepanikan di tengah malam.
Reaksi Pengadilan Militer
Selain kesaksian tentang kejadian penyiraman air keras, Oditur Militer II-07 Jakarta turut mengajukan pertanyaan kepada para saksi. Masing-masing detail disampaikan dengan penuh ketakutan dan kebingungan atas apa yang sampai terjadi pada malam itu. Bahkan, hingga detik ini, fakta-fakta tersebut masih menjadi titik fokus persidangan yang berlangsung.
Surat dakwaan oditur mengungkap alasan di balik tindakan brutal ini, yang diduga dipicu oleh ketidaksenangan terhadap pandangan Andrie Yunus terkait peran dan keberadaan TNI. Hal ini menjadi pemicu dari aksi penyiraman air keras yang dilakukan oleh anggota Denma BAIS TNI.










