Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya mengakui bahwa hingga saat ini dia masih belum mampu berkomunikasi dengan Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar untuk melakukan islah. Hal ini terkait dengan batas waktu 3×24 jam yang telah ditetapkan dalam pertemuan kiai senior di Pesantren Lirboyo, Kediri, untuk melakukan islah PBNU yang telah berakhir.
Gus Yahya menyatakan bahwa setelah forum musyawarah berlangsung, dia telah mengirim pesan kepada Miftachul untuk bertemu dan bahkan mengirim surat permintaan pertemuan pada hari Senin. Namun, hingga hari Rabu siang, ia belum menerima respons dari Rais Amm terkait permintaan pertemuan tersebut. Gus Yahya juga mengungkapkan bahwa dia telah berupaya melalui berbagai jalur komunikasi untuk mencapai islah.
Menyikapi situasi ini, Yahya berencana untuk berkoordinasi dengan PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia serta cabang PBBNU di luar negeri untuk menentukan langkah selanjutnya. Sementara itu, Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU menyatakan menghormati forum musyawarah tersebut dan menekankan bahwa keputusan organisasi harus mengikuti aturan dan mekanisme yang berlaku.
Dalam konteks isu pengelolaan tambang sebagai pemicu konflik di internal PBNU, Yahya menjelaskan bahwa isu tersebut muncul karena PBNU memperoleh konsesi tambang dari pemerintah. Meskipun demikian, Yahya menegaskan bahwa PBNU tidak pernah meminta atau menuntut konsesi tambang dan bahwa masalah ini perlu didalami lebih lanjut. Adapun usulan agar PBNU mengembalikan konsesi tambang ke pemerintah juga menjadi perhatian Yahya yang menegaskan perlunya musyawarah dalam mengambil keputusan.
Dengan demikian, masalah internal PBNU yang berkaitan dengan islah dan pengelolaan tambang menjadi fokus pembahasan yang perlu diselesaikan dengan bijaksana demi mempertahankan marwah Jam’iyah Nahdlatul Ulama.












