Penggunaan baby walker tidak diperlukan untuk membantu anak belajar berjalan dan justru dapat mengganggu perkembangan tulang serta pola geraknya. Orang tua disarankan mengikuti tahapan perkembangan motorik anak secara alami, tanpa memaksanya berdiri atau berjalan sebelum waktunya.
Dokter spesialis ortopedi anak, Gabriel Kelemens Wienanda, mengatakan anak umumnya mulai merangkak pada usia 8–9 bulan, berdiri dengan berpegangan pada usia 9–10 bulan, lalu mulai melangkah sekitar usia 12 bulan. Karena itu, penggunaan baby walker bukan bagian yang dibutuhkan dalam proses tersebut.
“Tidak perlu bantuan baby walker,” kata Gabriel dalam jumpa media, Senin, 29 Juni 2026.
Risiko pada tulang dan pola berjalan
Menurut Gabriel, memaksa anak berjalan sebelum usia 12 bulan dapat meningkatkan risiko Blount disease, yakni kondisi ketika tungkai tampak membengkok menyerupai huruf O. Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan pada anak dengan berat badan berlebih karena tulang masih berada dalam tahap pertumbuhan.
“Masalahnya kalau mengalami ini no reversible,” ujar Gabriel, yang berpraktik di Eka Hospital Cibubur.
Baby walker juga dapat membuat anak tidak memperoleh pengalaman sensorik dan motorik yang tepat saat menapak. Anak cenderung berjalan dengan posisi jinjit atau tiptoe karena tidak belajar menumpukan telapak kaki secara normal. Akibatnya, proses belajar berjalan dapat berlangsung lebih lama dan memengaruhi pola berjalan dalam jangka panjang.
Gangguan pola berjalan itu dapat terlihat dalam bentuk intoeing, yaitu posisi kaki yang mengarah ke dalam ketika anak berjalan. Orang tua juga kerap mengeluhkan anak mudah terjatuh saat mulai berlari.
Gabriel mengingatkan, kebiasaan posisi tubuh lain juga perlu diperhatikan. Ia menyarankan orang tua membiasakan anak duduk bersila dan menghindari posisi W. Posisi W dapat memengaruhi arah pertumbuhan tulang sehingga kaki mengarah ke dalam saat berjalan.
Menurut dia, koreksi alami terhadap perubahan arah tulang masih mungkin berlangsung hingga sekitar usia delapan tahun. Setelah itu, pada kondisi tertentu, anak dapat memerlukan tindakan operasi. “Intervensi yang salah bisa mempengaruhi seluruh pertumbuhan anak,” ujarnya.
Perhatikan posisi bayi dalam gendongan
Selain baby walker, gendongan menjadi alat bantu yang perlu digunakan secara cermat. Banyaknya model dan merek di pasaran tidak otomatis menjamin gendongan tersebut aman bagi pertumbuhan bayi.
Gabriel mengatakan gendongan yang baik harus menopang bayi dalam posisi M-shape. Dalam posisi ini, kedua paha bayi terbuka dan membentuk huruf M sehingga sendi panggul berada dalam posisi yang lebih aman.
Gendongan yang membuat kaki bayi terlalu lurus atau tidak tersangga dengan baik dapat memberi tekanan pada sendi panggul. Kondisi itu juga dapat mengganggu aliran darah menuju kepala tulang paha. Dalam jangka panjang, risikonya dapat berkaitan dengan developmental dysplasia of the hip (DDH), yaitu gangguan perkembangan sendi panggul pada bayi.
Karena itu, Gabriel meminta orang tua tidak hanya mempertimbangkan model atau merek saat memilih gendongan. Hal yang perlu dipastikan ialah panggul bayi tetap terbuka dan kedua kakinya tersangga dengan baik selama berada di dalam gendongan.












