Bahaya Kabel Semrawut di Kuningan Barat bagi Warga

Ratusan kabel fiber optik yang menumpuk di ujung Jalan Kuningan Barat Raya, Jakarta Selatan, tidak hanya mengganggu pemandangan. Kabel yang menjuntai dari tiang besar dan melintang di sejumlah titik itu disebut membahayakan pengendara, menghambat akses toko serta sekolah, dan memicu keluhan warga selama bertahun-tahun.

Ira, pemilik toko material di dekat tiang tersebut, mengatakan sejumlah pengendara motor jatuh ketika hendak berbelanja. Kondisinya menjadi lebih berbahaya setelah hujan karena kabel yang berada di dalam tanah dapat muncul ke permukaan.

“Itu tuh banyak motor pada jatoh kalau belanja, ada yang sampai kuncinya patah, ada yang orangnya terguling, apalagi kalau abis hujan, licin banget,” kata Ira, Senin (28/9).

Menurut Ira, penggalian yang dilakukan petugas diduga tidak cukup dalam dan tidak seluruhnya mengantongi izin. Ia menyebut kabel-kabel itu telah berada di lokasi tersebut sekitar lima tahun. Meski petugas beberapa kali datang untuk mengecek, belum ada perbaikan berarti.

“Belum ada solusinya, tapi kalau ngecek-ngecek sering,” ujarnya.

Membahayakan akses sekolah

Kabel tidak hanya menumpuk di sekitar toko. Jalur turunannya membentang sekitar 60 meter hingga melintasi kompleks sekolah Islam yang menaungi jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah, dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Komar, satpam sekolah, mengatakan sejumlah pengendara telah menjadi korban. Ia sendiri pernah terpeleset di sekitar kabel. Menurut dia, galian kerap ditutup secara seadanya sehingga permukaannya mudah rusak.

“Digali iya, kadang-kadang ya dia tutup, tapi sembarangan lah ya, istilah kasarnya enggak pakai semen atau gimana kan enggak kuat,” kata Komar.

Sekolah bahkan sempat menggunakan dana sendiri untuk menutup kabel di depan gerbang karena jalur tersebut menjadi akses keluar-masuk kendaraan, terutama pada malam hari. Komar mengaku belum mengetahui pihak yang tepat untuk menerima pengaduan.

Teknisi kabel bernama Rudi menjelaskan, kabel tebal yang terlihat di tiang merupakan kabel fiber optik milik berbagai penyedia layanan. Menurut dia, jaringan tersebut terhubung dengan pusat data yang menyalurkan koneksi internet ke Jabodetabek sebelum diteruskan ke wilayah lain.

Rudi mengatakan kabel tidak bisa dipotong atau dipindahkan sekaligus. Pembenahan membutuhkan jalur sementara dan harus dilakukan bertahap karena kabel melayani banyak perusahaan, kantor, sekolah, dan rumah. Pemutusan satu kabel, kata dia, dapat berdampak luas.

Keluhan izin hingga rencana penataan

Pedagang es teh Yuliana menduga keberadaan perusahaan penyedia data di sekitar lokasi sejak 2019 ikut menambah jumlah kabel. Ketua RW 03 Sariman menyebut kawasan itu juga memiliki Gedung NTT dan gedung Cyber 4 yang digunakan untuk penyimpanan data.

Perusahaan E yang disebut warga belum memberikan tanggapan mengenai kesemrawutan kabel tersebut. Sariman mengatakan persoalan ini juga pernah berujung gugatan warga RW 02 terhadap pemborong galian. Warga itu disebut meminta kompensasi karena akses rumah dan lalu lintas terganggu.

Menurut Sariman, sebagian kabel dari depan gedung Cyber hingga sekolah dan Jalan Gatot Subroto telah dibenahi. Namun, bagian ujung jalan yang berada di sekitar tiang besar masih belum ditangani. Penggalian biasanya dilakukan malam hari untuk menghindari kemacetan, meski ia mengaku beberapa kali menemukan petugas yang diduga tidak mengantongi izin.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan penataan kabel permukaan di Jakarta ditargetkan berlangsung dalam lima tahun. Program itu akan dilakukan melalui pembangunan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) dengan kebutuhan penanganan sekitar 6.500 kilometer kabel.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo mengatakan anggaran pembangunan SJUT mencapai Rp90 miliar untuk ruas jalan utama sepanjang 16,9 kilometer. Pengerjaan akan melibatkan sejumlah pihak dan dikoordinasikan dengan Dinas Perhubungan untuk mengatur lalu lintas selama proyek berlangsung.

Source link