4 Anggota OPM Kembali ke NKRI, Serahkan Senjata kepada TNI

Empat anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, menyatakan kembali bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam upacara reintegrasi nasional di halaman Makodim 1714/Puncak Jaya, mereka menyerahkan empat pucuk senjata api kepada Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI Habema Brigjen TNI Riyanto.

Keempat anggota tersebut adalah Bongkar Tabuni dan Lipar Tabuni dari OPM Kodap X/Tolikara, serta Bejo Tabuni dan Kopitua Tabuni dari OPM Kodap XXVIII/Yambi. Kopitua diketahui menjabat sebagai Koordinator Lapangan (Danops Wil) OPM Kodap XXVIII/Yambi.

Empat senjata diserahkan

Senjata yang diserahkan dalam kegiatan tersebut terdiri atas satu pucuk AR-15 kaliber 5,56 milimeter, satu pistol revolver kaliber 9 milimeter, satu pistol Trailside Sig Arms kaliber .22 Long Rifle (LR), dan satu pistol Combat kaliber 9 milimeter.

Pistol Trailside Sig Arms diserahkan oleh Bejo Tabuni, sedangkan pistol Combat diserahkan oleh Lipar Tabuni. Penyerahan senjata menjadi bagian dari proses kembalinya empat anggota OPM tersebut ke tengah masyarakat.

Riyanto mengapresiasi keputusan mereka untuk meninggalkan jalan bersenjata dan kembali bersama masyarakat. Menurut dia, keberanian tidak hanya ditunjukkan ketika seseorang mampu mengangkat senjata, tetapi juga ketika berani meletakkannya demi memilih kehidupan yang lebih baik.

“Hari ini bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Hari ini adalah tentang memilih masa depan,” ujar Riyanto dalam keterangannya yang diterima di Timika, Sabtu (26/9), seperti dikutip Antara.

Reintegrasi membutuhkan dukungan bersama

Riyanto menegaskan penyerahan senjata bukanlah akhir dari proses reintegrasi. Tahap penting justru dimulai setelah mereka kembali, yakni memastikan keluarga dan masyarakat dapat menerima mereka serta pemerintah memberikan pendampingan agar mereka mampu menjalani kehidupan secara normal dan bermartabat.

“Senjata yang diserahkan hari ini menjadi tanda bahwa satu jalan lama telah ditinggalkan. Setelah ini mari kembali kepada keluarga, membangun kampung, berkebun, bekerja, beribadah, dan bersama-sama menjaga masa depan anak-anak Papua,” kata Riyanto.

Ia juga menyampaikan bahwa jalan damai tetap terbuka bagi anggota OPM lain yang ingin kembali. Menurut Riyanto, proses reintegrasi tidak dapat berjalan sendiri dan membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat keamanan, serta keluarga.

“Jalan damai selalu terbuka bagi saudara-saudara kita yang ingin kembali,” ujarnya.

Riyanto menekankan, dukungan dari berbagai unsur tersebut diperlukan agar keputusan kembali ke NKRI tidak berhenti pada seremoni penyerahan senjata, tetapi berlanjut pada kehidupan bersama di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Source link