Intoleransi laktosa dan alergi protein susu sapi kerap dianggap sebagai kondisi yang sama karena sama-sama berkaitan dengan konsumsi susu. Padahal, keduanya memiliki mekanisme dan gejala berbeda. Dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi Eva Jeumpa Soelaeman menjelaskan, perbedaan itu berkaitan dengan komponen susu yang memicu masalah, yakni laktosa dan protein.
Gejala berbeda pada saluran cerna dan kekebalan tubuh
Intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh tidak mampu mencerna laktosa dengan baik. Kondisi ini umumnya ditandai gangguan pada saluran cerna, terutama setelah seseorang minum susu atau mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa.
“Anak menjadi banyak buang angin yang kadang berbau asam, bahkan napasnya juga berbau asam,” kata Eva dalam jumpa media di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026. Perut kembung juga menjadi salah satu keluhan yang umum muncul pada kondisi tersebut.
Berbeda dari intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein dalam susu sapi. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada bayi, khususnya yang berusia di bawah satu tahun. Gejalanya dapat berupa ruam, gangguan pencernaan, hingga gangguan pernapasan.
Teknik menyusui dan risiko pemberian formula
Eva mengatakan, sebagian kasus alergi protein susu sapi berawal dari kekhawatiran ibu terhadap proses menyusui. Ibu bisa mengira bayinya tidak mau menyusu, padahal pemeriksaan menunjukkan teknik menyusui yang digunakan belum tepat.
Ia menyarankan ibu untuk berkonsentrasi saat menyusui dan tidak membagi perhatian dengan aktivitas lain. Gangguan fokus dapat memengaruhi refleks pengeluaran ASI. Akibatnya, bayi berhenti mengisap, lalu kondisi itu disalahartikan sebagai tanda produksi ASI yang kurang. Pada tahap berikutnya, ibu mulai memberikan susu formula kepada bayi.
Pemberian susu formula kepada bayi berusia di bawah enam bulan, menurut Eva, perlu dipertimbangkan secara hati-hati karena saluran cerna bayi masih belum matang. Ia menekankan pentingnya ASI yang mengandung berbagai komponen pendukung pencernaan, seperti enzim, bakteri baik, dan zat aktif lainnya.
“Jika memungkinkan berikanlah ASI,” ujar Eva, yang berpraktik di Rumah Sakit Eka Hospital MT Haryono, Jakarta Timur.
Pilihan penanganan sesuai kondisi
Penanganan intoleransi laktosa bergantung pada penyebabnya. Mayo Clinic menyebut intoleransi yang dipicu kondisi mendasar dapat memerlukan waktu tertentu untuk ditangani. Untuk penyebab lain, keluhan dapat dikurangi dengan menerapkan pola makan rendah laktosa, antara lain membatasi susu dan produk olahannya.
Pilihan lainnya adalah mengonsumsi produk susu dalam porsi kecil secara teratur, memilih susu atau es krim rendah laktosa, serta menambahkan enzim laktase berbentuk cair atau bubuk ke dalam susu untuk membantu memecah laktosa.
Pada bayi dengan alergi protein susu sapi, ASI tetap dapat diberikan. American Academy of Pediatrics merekomendasikan ibu menyusui menghindari seluruh makanan yang mengandung protein susu sapi, termasuk keju, yogurt, dan mentega. Sementara itu, bayi yang membutuhkan susu formula dianjurkan menggunakan formula terhidrolisis ekstensif. Formula berbahan dasar kedelai umumnya bukan pilihan utama karena sekitar 50 persen anak dengan alergi protein susu sapi juga mengalami intoleransi terhadap protein kedelai.












