Penurunan angka fertilitas di berbagai negara, termasuk Indonesia, tidak serta-merta berarti generasi muda kehilangan keinginan untuk menikah dan memiliki anak. DANA Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) menyebut banyak anak muda masih ingin membangun keluarga, tetapi rencana tersebut tertahan oleh tekanan ekonomi, persoalan perumahan, ketidakpastian pekerjaan, serta situasi global.
Kepala Perwakilan UNFPA Indonesia Hassan Mohtashami mengatakan persoalan itu menjadi salah satu fokus peringatan Hari Kependudukan Dunia 2026 yang digelar di Jakarta pada awal Juli 2026. Menurut dia, pembahasan tahun ini tidak hanya menyoroti aspirasi orang muda, tetapi juga perubahan demografi yang kini menjadi tantangan di banyak negara.
“Tema tahun ini memang hampir mirip dengan tema tahun lalu yang fokus pada orang muda. Yang membedakan, pembahasannya lebih luas dibandingkan tahun lalu,” kata Hassan.
Keinginan berkeluarga terbentur kondisi ekonomi
Hassan menyampaikan, sekitar dua pertiga negara di dunia saat ini memiliki tingkat fertilitas di bawah 2,1 anak per perempuan. Angka tersebut merupakan tingkat penggantian penduduk, yakni jumlah rata-rata anak yang dibutuhkan agar satu generasi dapat menggantikan generasi sebelumnya.
Di Indonesia, total fertility rate (TFR) berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 berada di angka sekitar 2,13 anak per perempuan, sedikit di atas tingkat penggantian penduduk. Pada saat yang sama, angka harapan hidup terus meningkat sehingga jumlah penduduk lanjut usia diperkirakan bertambah.
“Karena itu, kita harus mulai mempersiapkan masa depan demografi Indonesia,” ujar Hassan.
Paparan UNFPA tersebut merujuk pada Demographic Futures Survey 2025–2026 yang melibatkan 108.926 responden berusia 18–39 tahun di 73 negara, termasuk Indonesia. Survei menunjukkan sebagian besar responden masih memiliki keinginan untuk menikah dan mempunyai anak. Namun, keinginan itu berhadapan dengan kebutuhan akan keamanan finansial, pekerjaan yang pasti, akses terhadap perumahan, serta ketidakpastian akibat konflik dan berbagai persoalan global.
Communications Analyst UNFPA Indonesia Rahmi Dian Agustino mengatakan kondisi keuangan menjadi hambatan paling besar bagi generasi muda untuk merealisasikan rencana berkeluarga.
“Tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah kondisi keuangan, perumahan yang belum aman, serta tantangan global seperti konflik dan lain-lain,” kata Rahmi.
Survei yang sama memperlihatkan jarak antara harapan anak muda dan dukungan yang mereka rasakan. Sebanyak 58 persen responden menyatakan memiliki banyak peluang untuk meraih masa depan, tetapi 60 persen menilai kesenjangan antargenerasi muda di negara mereka masih lebar. Hanya 39 persen yang menganggap pemerintah telah memberikan dukungan memadai. Dukungan bagi orang tua muda dan kebijakan untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan keluarga juga dinilai masih terbatas.
Indonesia menghadapi dua arah perubahan demografi
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) Bonivasius Prasetya Ichtiarto mengatakan Indonesia menunjukkan kecenderungan serupa. Berdasarkan SUPAS 2025 dan temuan Demographic Futures Survey, Indonesia mulai memasuki fase aging population, tetapi masih memiliki peluang memperoleh manfaat dari besarnya populasi usia produktif.
Proporsi penduduk usia produktif saat ini mencapai 68,9 persen. Bonivasius menyebut tingkat fertilitas Indonesia masih berada pada kisaran 2,1–2,2 anak per perempuan, lebih tinggi dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand yang telah lama berada di bawah tingkat penggantian penduduk.
Menurut dia, jumlah penduduk usia kerja yang besar tidak otomatis menghasilkan keuntungan demografi. Pendidikan, layanan kesehatan, keterampilan, produktivitas, lapangan kerja, serta dukungan agar generasi muda dapat membangun keluarga tetap menjadi penentu.
Bonivasius bahkan mengatakan lebih nyaman menggunakan istilah demographic dividend atau dividen demografi. “Kalau kami punya saham di sebuah perusahaan, ketika perusahaan itu untung kami mendapat dividen. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki modal berupa jumlah penduduk usia produktif yang tinggi. Tapi kalau modal itu tidak diinvestasikan pada peningkatan kualitas manusianya, kita tidak akan memperoleh dividen. Itulah yang sedang kami upayakan,” ujarnya.












