Imigrasi Tangkap 55 Warga Negara China Terkait Penyalahgunaan Izin Tinggal
Jakarta, CNN Indonesia — Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi, Kementerian Imipas berhasil mengamankan 55 warga negara (WN) China di kawasan proyek gedung data center Sinarmas, Galeri Smartfren BSD, Tangerang Selatan, Banten, pada Kamis (3/9). Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko mengatakan bahwa penangkapan tersebut diduga terkait dengan penyalahgunaan izin tinggal.
Selidiki Dugaan Penyalahgunaan Izin Tinggal
Menurut Hendarsam, ada dugaan penyalahgunaan izin tinggal di proyek tersebut yang membuat pihaknya melakukan penyelidikan. Setelah menemukan sejumlah nama, tim Imigrasi kemudian melakukan operasi untuk mengawasi situasi tersebut. Beberapa nama yang teridentifikasi antara lain FZ, HL, JY, SY, dan ZZ yang memegang izin tinggal kunjungan (ITK) dengan penjamin PT BOS.
Selain itu, terdapat juga satu orang berinisial XX yang merupakan pemegang visa kunjungan multipel dengan PT WD sebagai penjamin. Di lokasi, Imigrasi juga mengidentifikasi SJ, XB, dan ZP sebagai pemegang visa kunjungan tanpa penjamin.
RAmelan Imigran yang Diduga Menyalahi Izin Tinggal
Ditjen Imigrasi menduga sebanyak 55 WN Tiongkok tersebut menggunakan izin tinggalnya untuk bekerja di lokasi pembangunan Data Center SM+ dan Galeri Smartfren HQ di BSD, Tangerang Selatan. Meskipun demikian, pihak SM+ telah membantah hal tersebut dan menyatakan bahwa individu yang ditangkap bukan merupakan karyawan SM+.
Dari 55 WN Tiongkok tersebut, 17 diantaranya telah didetensi dan dititipkan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta untuk proses lebih lanjut. Sementara tujuh WN Tiongkok lain yang melakukan aktivitas bekerja dikenakan tindakan administratif berupa penahanan paspor. Mereka dijadwalkan memberikan keterangan kepada petugas Imigrasi pada Rabu, 9 September 2026.
Operasi pengawasan tersebut dilakukan secara berkala untuk menjaga ketertiban dan memperkuat kepercayaan publik terhadap Imigrasi. SM+ Data Centers (SM+) pun menyatakan bahwa lokasi konstruksi proyek data center baru tersebut dikelola oleh kontraktor proyek dan merupakan area yang berbeda dari fasilitas operasional data center SM+. Layanan operasional data center SM+ tetap berjalan normal dan tidak terpengaruh oleh situasi tersebut.












