Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menyoroti isu promosi film horor berjudul Aku Harus Mati yang akhir-akhir ini tersebar di berbagai ruang publik. Dia menekankan bahwa penggunaan kata-kata dalam promosi tersebut dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental anak dan remaja.
Menurut Piprim, sekitar 10 persen remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan. Jika populasi anak usia 0-18 tahun mencapai 90 juta jiwa, artinya sekitar 3 hingga 4 juta remaja sedang mengalami kondisi psikologis yang berat saat ini.
Bagi anak-anak dengan gangguan mental, kata-kata ‘Aku Harus Mati’ dalam promosi film tersebut bukan sekadar iklan biasa. Paparan visual semacam itu bisa menjadi pemicu yang memperkuat niat merugikan yang sudah ada sebelumnya. Hal ini mengundang kekhawatiran tersendiri terutama karena ruang publik seharusnya menjadi tempat yang aman bagi pertumbuhan karakter anak-anak.
Piprim juga menggarisbawahi kebingungan yang muncul pada anak usia dini yang baru belajar membaca. Anak-anak cenderung menyerap informasi secara harfiah tanpa memahami konteksnya. Hal ini menekankan pentingnya pendidikan bagi orang tua untuk menjelaskan makna sebenarnya dari kata-kata yang mereka temui di lingkungan sekitarnya.
IDAI menghimbau para produsen film dan pelaku industri kreatif untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam promosi. Meskipun mencari keuntungan adalah hal yang wajar, namun tanggung jawab terhadap pendidikan dan keselamatan masyarakat harus tetap diutamakan. Diskusi dengan para ahli psikologi dan kesehatan anak diharapkan dapat membantu melahirkan strategi pemasaran yang lebih aman dan bertanggung jawab.
Dari sudut pandang etika dan nilai, IDAI berharap konten kreatif di Indonesia dapat lebih sejalan antara aspek komersial dan perlindungan terhadap kesehatan jiwa masyarakat. Melalui upaya kolektif, diharapkan dampak negatif terhadap kesehatan mental akibat promosi yang kurang bijaksana dapat diminimalisir, sehingga generasi bangsa dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mendukung.












