Letusan Gunung Ili Lewotolok menyebabkan penyebaran abu vulkanik yang semakin meluas di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 27 desa saat ini terdampak oleh erupsi tersebut, yang adalah peningkatan drastis dari sebelumnya hanya 7 desa yang terkena dampak. Desa-desa tersebut mencakup Jontona, Lamaau, Baolaliduli, Aulesa, Lamawolo, Lamatokan, Kalikur WL, Umaleu, Buriwutung, Mampir, Leuwohung, Bareng, Kalikur, Normal, Normal 1, Leudanung, Leuwayan, Roma, Hoelea 1, Hoelea 2, Hingalamamengi, Meluwitung, Balauring, Wailolong, Lebewala, Wowong, dan Nilanapo.
Meskipun aktivitas belajar mengajar di sekolah terganggu akibat erupsi, pemerintah belum memberlakukan libur karena belum terjadi peningkatan signifikan dalam skala erupsi. Masalah utama yang dihadapi warga adalah tercemarnya sumber air bersih akibat hujan abu yang membuat air yang dikumpulkan oleh masyarakat menjadi terkontaminasi. Upaya distribusi air minum bersih sedang dilakukan meskipun BPBD menghadapi keterbatasan anggaran, namun telah berkoordinasi dengan pihak swasta untuk mendukung upaya tersebut.
Selain air bersih, tanaman pertanian juga rusak akibat tertutupi abu vulkanik sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Stok masker di BPBD juga sangat terbatas, dengan sebagian sudah dibagikan kepada warga namun sebagian besar masyarakat menggunakan kain sebagai pelindung diri. Gunung Ili Lewotolok naik status aktivitas vulkaniknya dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) karena peningkatan aktivitas sejak 4 Januari 2026, dengan kolom abu mencapai 300 meter di atas puncak dan kejadian gempa erupsi yang meningkat tajam setiap harinya.












