Bentrok antara warga Desa Longgar dan Desa Apara, Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku terjadi pada Jumat (2/1) pagi, menyebabkan dua orang tewas dan enam orang terluka. Dua korban tewas adalah Antoni Sareman dari Desa Longgar dan Hery Marlisa (40 tahun). Sedangkan enam korban luka terdiri dari warga Desa Longgar yaitu Aleksander Djontar, Abdul Haji Rahantan, dan Laurensia Jerwy, serta warga Desa Apara yaitu Remon Onaola, Muharam Difinubun, dan Karel Gwejor. Peristiwa dimulai ketika dua warga Desa Longgar, Lorensius Jerwy dan Maksimus Kobaun, mengunjungi rumah Tony Rainuni di Desa Apara untuk membeli minuman keras pada Kamis (1/1) sore.
Mereka dihadang oleh sepuluh pemuda dari Desa Apara ketika berada di perbatasan desa. Setelah dipukul, Lorensius dan Maksimus melarikan diri ke Desa Longgar. Pada pukul 16:27 WIT, korban kembali ke perbatasan desa dengan sepuluh orang pemuda dari Desa Longgar untuk mencari pelaku pemukulan. Bentrokan kemudian terjadi dengan serangan parang, senapan angin, dan busur panah. Meskipun seorang pendeta bernama Japy Tenu mencoba meredakan situasi, namun bentrokan terus berlanjut.
Bentrokan meluas ketika warga dari dua desa berkumpul di lapangan SMA Negeri 8 sekitar pukul 17.00 WIT. Meskipun upaya untuk meredakan dilakukan oleh anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa, bentrokan terus terjadi. Pada Jumat (2/1) pukul 09:00 WIT, bentrokan kembali terjadi dengan serangan dari Desa Apara ke Desa Longgar. Kapolres Aru AKBP Albert Perwira Sihite mengonfirmasi kejadian tersebut dan telah mengerahkan personel Brimob dan anggota Polres ke lokasi bentrokan.
Bupati Kabupaten Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, turun ke kedua desa untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dia mendesak warga untuk menyerahkan masalah kepada aparat penegak hukum, menahan diri, dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah persaudaraan. Situasi di wilayah perbatasan desa sudah mulai membaik setelah kehadiran personel ke lokasi.












