Penyebab Insiden Pangan Massal di Lembang: Peran Nitrit dalam BGN

Insiden keamanan pangan di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat pada Oktober lalu diakibatkan oleh tingginya kadar nitrit dalam makanan, bukan karena kualitas air. Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan bahwa kandungan nitrit yang tinggi terdapat pada hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Kayu Ambon dan SPPG Cibodas 2, Bandung Barat. Penyelidikan menunjukkan bahwa nitrit positif terdapat pada menu tumis pakcoy di SPPG Kayu Ambon, dan pada nasi putih, tumis wortel, jagung mini putren, dan kembang kol di SPPG Cibodas 2.

Hasil uji fisik, kimia, dan mikrobiologi air bersih di kedua SPPG memenuhi standar, namun kadar nitrit yang tinggi telah diukur secara kualitatif menggunakan rapid test. Menyebabkan lebih banyak siswa mengalami gejala keracunan di Cibodas 2, yaitu 236 orang dibandingkan dengan 44 orang dari Kayu Ambon. Proses persiapan makanan yang selesai di malam hari dan disimpan hingga pagi juga berkontribusi pada peningkatan kadar nitrit dalam sayuran, karena proses perubahan nitrat menjadi nitrit pada suhu kamar.

Fakta bahwa korban tidak mengalami diare menunjukkan bahwa bakteri bukan penyebab utama, sementara gejala yang muncul di malam hari dan reaksi kimia dalam tubuh memperjelas bahwa nitrit adalah penyebab utama keracunan. Nitrit secara alamiah terdapat dalam berbagai elemen alamiah seperti tanaman, air, dan tanah, namun dalam kasus ini, kemungkinan tingginya kadar nitrit berasal dari pupuk tanaman yang digunakan untuk sayuran. Nitrit, jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, dapat mengganggu distribusi oksigen dalam tubuh, menyebabkan korban merasa lemas dan kekurangan oksigen. Arie Karimah Muhammad, Ketua Tim Investigasi Independen BGN, menggarisbawahi pentingnya mengendalikan kadar nitrit dalam pangan untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Source link