Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, ditargetkan selesai pada akhir 2027. Proyek yang diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp101 miliar itu diharapkan menjadi pusat edukasi sekaligus penanda sejarah perkembangan bahasa Indonesia.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyampaikan apresiasi atas pembangunan tersebut saat menghadiri groundbreaking Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kamis (24/9). Menurut Tito, fasilitas itu penting untuk menjaga jejak sejarah bahasa Indonesia dan memperkenalkan asal-usulnya kepada generasi mendatang.
Bahasa Melayu dan pembentukan identitas nasional
Tito mengatakan museum dan monumen itu nantinya tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah. Keduanya juga diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk memahami perjalanan bahasa yang kemudian ditetapkan sebagai bahasa nasional Indonesia.
Ia menjelaskan, bahasa Melayu memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Sejak lama, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar antardaerah sehingga memiliki posisi strategis dalam pembentukan identitas kebangsaan.
“Saat ini bahasa Melayu sudah menjadi bahasa Indonesia dan menjadi kurikulum wajib. Dari Sabang sampai Merauke, bukan hanya di rumpun Melayu, Sumatera, ataupun di Kalimantan, tapi di Bali, di Papua,” kata Tito.
Menurut dia, bahasa Indonesia menjadi alat komunikasi di tengah keberagaman suku, daerah, dan bahasa di Indonesia. Fungsi tersebut membuat bahasa Indonesia tidak hanya menjadi sarana berkomunikasi, tetapi juga salah satu unsur yang memperkuat persatuan bangsa.
“Inilah pemersatu kita. Museum ini dan monumen ini akan menjadi pemersatu kita,” tegasnya.
Menelusuri jejak Raja Ali Haji
Tito menilai keberadaan museum dan monumen tersebut relevan dengan sejarah Pulau Penyengat yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan bahasa Melayu, termasuk melalui tokoh Raja Ali Haji. Ia berharap berbagai jejak sejarah tersebut dapat dihimpun dan disajikan secara sistematis di museum.
“Kita mencari semua jejak-jejaknya itu. Inisiatif Bapak Gubernur, jujur saja, saya sangat mengapresiasi. Dengan adanya museum ini, dan juga Monumen Bahasa Nasional ini, di sinilah kita bisa mencari jejak yang sebenarnya, yang dipatrikan secara sistematis bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, dan jejaknya itu semua terkumpul dalam museum ini,” ujarnya.
Tito juga berharap pembangunan tersebut dapat dilanjutkan dan dirawat oleh para pemimpin berikutnya. Menurutnya, keberlanjutan proyek diperlukan agar fasilitas itu tidak berhenti sebagai proyek fisik, melainkan memberi manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad mengatakan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah untuk merawat jejak sejarah perkembangan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu di Kepri, khususnya Pulau Penyengat.
“Wabilkhusus di Pulau Penyengat ini, sehingga di tahun 2004 Raja Ali Haji mendapat gelar pahlawan nasional di bidang bahasa dari Presiden dan pemerintah Indonesia di masa itu,” ujar Ansar.
Ansar berharap museum tersebut dapat memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai kawasan bersejarah dan pusat kebudayaan di Kepulauan Riau, sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat di tingkat nasional hingga mancanegara.










