Kerinduan terhadap suasana musik dan kehidupan era 1990-an mendorong pegiat industri hiburan Joana Kania memperkenalkan Radio 90-an. Platform ini dirancang bukan hanya sebagai ruang nostalgia, tetapi juga sebagai wadah untuk mengangkat kembali karya serta persoalan yang dihadapi musisi yang pernah berjaya pada dekade tersebut.
Joana memperkenalkan Radio 90-an di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, Rabu (16/9/2026). Pemilihan Melawai Plaza sebagai lokasi kantor disebut berkaitan dengan atmosfer tempat tersebut yang dinilai kuat merepresentasikan era 1990-an.
“Apa pun yang terjadi di tahun 90-an itu kita mau angkat di Radio 90-an. Nah, Radio 90-an sendiri itu nanti akan ada anaknya. Jadi memang aku ngelihat kerinduan masyarakat Indonesia nih sama effort tahun 90-an tuh kerasa banget. Makanya kita ngambil kantornya di Melawai Plaza. Karena dari lantai, tangga, itu ‘kan 90-an banget,” ujar Joana.
Menyiapkan festival musik tahunan
Selain menghadirkan platform bernuansa nostalgia, Radio 90-an juga tengah menyiapkan festival musik yang akan digelar setiap tahun. Festival tersebut ditujukan untuk merangkul musisi yang mengalami masa kejayaan karier dan karya pada dekade 1990-an.
Joana mengatakan konsep festival itu akan dibuat berbeda dari sejumlah festival musik yang sudah lebih dulu dikenal, seperti Pestapora dan Synchronize. Fokusnya adalah memberi ruang bagi para musisi era 1990-an yang karya-karyanya masih dinikmati masyarakat, tetapi kini disebut menghadapi kondisi ekonomi yang memprihatinkan.
“Perihal programnya juga kita tuh bakalan ada festival, kita akan bikin yang setiap tahunnya juga. Kalau yang kemarin orang udah bikin Pestapora, Synchronize, kita bikin yang agak berbeda,” kata Joana.
Ia melanjutkan, Radio 90-an ingin merangkul musisi-musisi yang pada era tersebut berada di puncak karier. Menurut Joana, keadaan sebagian musisi itu pada 2024 menyedihkan. Pernyataan tersebut disampaikannya saat menjelaskan alasan Radio 90-an tidak berhenti pada proyek nostalgia semata.
Ingin menjadi ruang pengaduan soal royalti
Radio 90-an juga diarahkan menjadi ruang pengaduan bagi musisi yang menghadapi persoalan terkait royalti. Joana menilai masih dibutuhkan media yang dapat membantu para musisi memahami cara memperjuangkan hak atas karya mereka.
Gagasan itu menjadi bagian dari upaya Radio 90-an untuk mengangkat persoalan musisi secara lebih luas, bukan hanya memutar kembali atau merayakan karya-karya lama. Platform tersebut diharapkan dapat memfasilitasi musisi yang membutuhkan informasi maupun ruang untuk menyampaikan masalah yang mereka hadapi.
“Nah, kita tuh sebenarnya Radio 90-an ini sekalian pengin kayak ada pengaduan juga deh soal nasib-nasib musisi yang… karena menurut aku belum pernah ada media itu memfasilitasi musisi-musisi untuk gimana caranya memperjuangkan royaltinya,” ungkap Joana.












