Sebanyak 20 talenta vokasi Indonesia akan mewakili Indonesia dalam WorldSkills Competition (WSC) ke-48 di Shanghai, China. Mereka akan berkompetisi dengan peserta dari lebih dari 80 negara dalam ajang yang menguji keterampilan sesuai standar dunia kerja.
Kontingen Indonesia tahun ini terdiri atas 20 kompetitor dan 17 expert. Para kompetitor akan bertanding dalam 17 bidang keahlian. Mereka berasal dari siswa dan alumni sekolah menengah kejuruan (SMK), serta talenta pilihan dari sejumlah institusi mitra industri.
Persiapan mencakup kemampuan teknis dan mental
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan pembinaan kontingen tidak berhenti pada penguatan kemampuan teknis. Peserta juga dipersiapkan untuk memiliki mental yang kuat, disiplin, integritas, serta kemampuan bekerja dengan standar internasional.
“Mereka berangkat bukan sekadar membawa koper, melainkan membawa nama besar Indonesia. Mereka ditempa secara teknis, mental, dan disiplin tinggi dengan standar dunia,” kata Tatang dalam keterangannya, Kamis (17/9).
Komposisi kontingen yang melibatkan siswa, alumni SMK, dan talenta dari institusi mitra industri mencerminkan keterlibatan berbagai unsur dalam pengembangan keterampilan vokasi. Dalam kompetisi tersebut, kemampuan peserta akan diuji melalui bidang keahlian yang menjadi bagian dari WSC.
Ajang ini menjadi ruang bagi para talenta muda untuk berhadapan langsung dengan peserta dari berbagai negara. Kompetisi tersebut juga memberi kesempatan bagi peserta untuk mengukur kemampuan mereka berdasarkan tolok ukur global, bukan hanya berdasarkan capaian dalam lingkungan pendidikan atau pelatihan masing-masing.
Hasil kompetisi menjadi bahan evaluasi pendidikan vokasi
Tatang menegaskan, keikutsertaan Indonesia tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar medali. Menurut dia, pengalaman yang diperoleh dari kompetisi dapat membantu peserta dan pemangku kepentingan pendidikan memahami perkembangan teknologi serta standar keterampilan yang berlaku secara internasional.
“Target kita bukan hanya pulang membawa medali, tetapi juga membawa pengalaman, teknologi, dan standar global untuk memajukan pendidikan vokasi di tanah air,” ujarnya.
Pengalaman kontingen di WSC nantinya dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia. Hasil kompetisi diharapkan memberikan gambaran mengenai kesesuaian keterampilan peserta dengan perubahan teknologi dan kebutuhan industri global.
Evaluasi itu dapat digunakan untuk meninjau sejumlah aspek pendidikan vokasi, mulai dari kurikulum, metode pembelajaran, penguasaan teknologi, hingga standar kompetensi yang diterapkan. Kebutuhan tersebut muncul karena pendidikan vokasi tidak hanya dituntut memberikan pemahaman teori, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan yang relevan bagi industri dan dunia kerja.
Melalui keikutsertaan dalam WSC, kemampuan talenta vokasi Indonesia akan diuji dalam lingkungan kompetisi internasional. Pada saat yang sama, ajang tersebut menjadi kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan mengenali perkembangan teknologi yang dapat menjadi masukan bagi peningkatan pendidikan vokasi di dalam negeri.












