Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono tentang kebiasaannya makan telur hingga mengalami bisul mendapat penjelasan berbeda dari para ahli. Menurut dokter, bisul bukan dampak konsumsi telur, melainkan infeksi bakteri pada folikel rambut.
Sudaryono menyampaikan kisah tersebut seusai dilantik pada Rabu, 22 Juli 2026. Ia menggantikan Nanik Sudaryati Deyang yang mengundurkan diri. Saat itu, Sudaryono bercerita bahwa dirinya tumbuh di desa dan sering memakan telur ayam yang dipelihara ibunya.
“Saya sendiri anak dari desa. Ibu saya memelihara ayam di pojok rumah, dan saya selalu makan itu sampai, maaf, sampai bisulan di mana-mana. Saya merasa bisa tumbuh berkembang karena telur, karena ikan jarang di Grobogan,” kata Sudaryono.
Pernyataan tersebut kemudian disiarkan Kompas TV dan diunggah ulang oleh akun Voktis serta Depok24jam pada 23 Juli 2026. Untuk memeriksa klaim itu, Tempo meminta penjelasan dari dua ahli.
Bisul disebabkan infeksi bakteri
Dokter spesialis kulit dan kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Putri Hendria Wardhani, menjelaskan bisul muncul ketika bakteri masuk dan menginfeksi folikel rambut. Sejumlah kondisi dapat memicu atau meningkatkan risikonya, antara lain kebersihan kulit yang buruk, gesekan, trauma pada kulit, diabetes yang tidak terkontrol, menurunnya daya tahan tubuh, dan obesitas.
Dengan penyebab tersebut, konsumsi telur tidak dapat disebut sebagai pemicu bisul. “Tidak masalah makan telur asalkan tidak punya alergi telur,” kata Putri kepada Tempo, Selasa, 28 Juli 2026.
Keluhan setelah makan telur juga perlu dibedakan dari bisul. Dokter dan ahli gizi Tan Shot Yen mengatakan reaksi yang berkaitan dengan alergi dapat berupa gatal, ruam, atau bentol. Reaksi itu bukan bisul yang terjadi akibat infeksi bakteri.
Telur merupakan sumber protein
Tan menyebut anggapan bahwa makan telur menyebabkan bisul sebagai mitos. Menurut dia, telur merupakan sumber protein hewani dengan kualitas biologis tinggi. Protein tersebut berperan dalam membangun jaringan, membentuk enzim dan hormon, serta mendukung sistem kekebalan tubuh.
Karena itu, menghindari telur tanpa alasan medis justru dapat mengurangi asupan protein penting, terutama bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, ibu hamil, dan lansia. “Dalam ilmu kedokteran, hubungan waktu tidak selalu menunjukkan hubungan sebab-akibat,” ujar Tan kepada Tempo, Senin, 27 Juli 2026.
Penjelasan serupa tercantum dalam informasi kesehatan Healthline yang menyebut telur sebagai sumber protein dan nutrisi. Telur juga termasuk makanan rendah kalori dan aman dikonsumsi oleh mayoritas orang. Satu butir telur rebus mengandung sekitar 77,5 kalori, 5,3 gram lemak, serta sedikit karbohidrat.
Tan menilai anggapan tersebut dapat bertahan karena orang sering menghubungkan dua peristiwa yang terjadi berdekatan. Bisul yang muncul setelah seseorang makan telur belum berarti telur menjadi penyebabnya. Infeksi bakteri yang mendasari bisul bisa saja telah terjadi sebelumnya.
Tempo telah meminta konfirmasi kepada Sudaryono melalui pesan WhatsApp dan telepon terkait pernyataannya tersebut. Namun, hingga Kamis, 30 Juli 2026, ia belum memberikan jawaban.












