Menjelajahi Krisis Kognitif Anak: Memperluas Imajinasi Mereka

Tanpa Pengecualian, Anak-anak Indonesia Cenderung Memiliki Impian Seragam

Imajinasi anak-anak Indonesia mulai menyempit. Saat ditanya tentang cita-cita, jawaban dominan adalah menjadi kreator konten, YouTuber, atau influencer. Menurut Indonesia Health Development Center (IHDC), hal ini menunjukkan adanya silent cognitive burden yang mengancam kemampuan anak-anak dalam membayangkan masa depan.

Konsep Silent Cognitive Burden

Istilah silent cognitive burden mengacu pada beban kognitif yang terjadi tanpa disadari, namun berpotensi merusak kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan. IHDC menilai bahwa kemampuan anak dalam berimajinasi dan merencanakan masa depannya terus berkurang akibat informasi digital yang terus mengalir dan kelemahan dalam perkembangan kognitif.

Direktur Eksekutif IHDC, Ray Wagiu Basrowi, menekankan pentingnya Cognitive and Future Imaginative Capacity pada anak-anak. Kapasitas ini memungkinkan anak belajar secara efektif, berpikir kritis, memecahkan masalah, berkreasi, dan membangun orientasi masa depan yang kuat.

Kemampuan Kritis dan Imajinatif sebagai Fondasi

Masalah gangguan refraksi mata, kekurangan zat besi, kekurangan protein, dan gangguan perilaku turut mempengaruhi proses belajar serta perkembangan otak anak. Tanpa kemampuan berpikir kritis, anak sulit membangun imajinasi untuk masa depannya. Hal ini tercermin dari pilihan cita-cita yang semakin seragam di kalangan anak-anak Indonesia.

IHDC menyoroti pentingnya meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada anak agar mereka dapat membedakan informasi yang diterima. Hal ini juga akan membantu mereka membangun imajinasi yang lebih luas dan tidak terbatas hanya pada pilihan profesi kontemporer.

Source link