Penyakit Lupus: Seribu Wajah yang Sering Terlambat Terdeteksi
LUPUS atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis yang sering kali sulit untuk dideteksi secara dini. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, Sandra Sinthya Langow, menjelaskan bahwa SLE dapat mengenai berbagai organ tubuh, mulai dari kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga sistem saraf pusat.
Sandra menyebutkan bahwa gejala lupus sangat beragam dan tidak spesifik, sehingga penyakit ini sering dianggap sebagai “penyakit seribu wajah”. Hal ini membuat banyak pasien baru mengetahui bahwa mereka mengidap lupus ketika sudah terjadi kerusakan pada organ tubuh.
Gejala lupus yang Kerap Meleset Sebagai Penyakit Lain
Salah satu penyebab utama terlambatnya diagnosis lupus adalah gejala penyakit yang seringkali dianggap sebagai gejala penyakit biasa. Misalnya, nyeri sendi yang bisa disalahartikan sebagai asam urat, atau ruam kulit yang dikira hanya alergi. Gejala yang mirip dengan penyakit umum inilah yang sering membuat lupus sulit untuk dikenali.
Penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita, terutama pada usia produktif. Faktor hormonal juga berperan dalam peningkatan angka kasus lupus pada wanita. Meskipun penyebab lupus belum diketahui secara pasti, faktor genetik, hormonal, dan lingkungan diyakini memiliki peran dalam pemicunya.
Pentingnya Diagnosis Dini dan Pengobatan yang Tepat
Untuk menegakkan diagnosis lupus, pemeriksaan ANA (Antinuclear Antibody) dapat dilakukan sebagai salah satu langkah diagnostik. Kalau diagnosis dapat ditegakkan dengan cepat, pasien dapat segera memulai pengobatan yang tepat untuk mencegah kerusakan organ tubuh yang lebih lanjut.
Dampak lupus yang tidak tertangani dengan baik dapat berdampak pada kualitas hidup dan produktivitas pasien. Oleh karena itu, penanganan lupus harus dilakukan secara berkelanjutan dengan terapi yang tepat. Meskipun lupus tidak dapat disembuhkan total, remisi dapat dicapai melalui pengobatan yang terarah.
Meskipun lupus seringkali dianggap sebagai kalimat hukuman, Sandra menekankan bahwa pasien lupus masih memiliki harapan untuk hidup produktif dan berkualitas dengan penanganan yang tepat.
Ghaeiza Kay Rasuffi berkontribusi dalam penulisan artikel ini












