PKB Gelar Temu Nasional Pesantren Bahas Kekerasan Seksual
Jakarta, CNN Indonesia — PKB bakal menggelar pertemuan nasional terhadap 250 Pondok Pesantren (Ponpes) dari seluruh Indonesia untuk membahas maraknya kasus kekerasan seksual, terutama di lingkungan pesantren.
Ketua DPP PKB Nihayatul Wafiroh mengatakan kegiatan Temu Nasional Pesantren itu dilakukan pihaknya usai menerima banyaknya aduan dari Ponpes terkait kasus-kasus kekerasan seksual yang belakangan muncul ke publik.
Penanganan Kasus Kekerasan Seksual di Ponpes
“Banyak sekali permohonan, pengaduan dan juga curhatan dari pesantren di seluruh Indonesia tentang berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di banyak pesantren yang akhir-akhir ini tentu sangat meresahkan,” ujar Nini dalam konferensi pers, Jumat (15/5).
Nini menyebut pihaknya juga akan memanggil Kementerian Agama, Kementerian PPPA hingga Kepolisian untuk duduk bersama mencari solusi terkait kasus kekerasan seksual.
Pasalnya, kata dia, masih banyak Ponpes yang gagap atau membutuhkan pendampingan dari aparat ketika ditemukan kasus kekerasan seksual.
“Mereka tidak mampu untuk apa menghandle sendiri, mereka butuh pendampingan. Mereka mungkin belum tahu bagaimana cara menyelesaikannya seperti apa, lalu prosedur hukumnya seperti apa,” tuturnya.
Kompleksitas Masalah Kekerasan Seksual di Ponpes
Nini mengatakan masalah kekerasan seksual di Ponpes sangat rumit karena faktor relasi kuasa yang sangat besar dalam pengusutannya. Ia menjelaskan bahwa berbicara mengenai kasus kekerasan seksual perlu melibatkan aspek relasi kuasa antara pelaku dan korban, kuasa agama, kuasa politik, dan faktor-faktor lainnya yang membuat permasalahan tersebut menjadi sangat complicated.
Sebelumnya, kasus kekerasan seksual di Ponpes semakin menjadi sorotan publik, seperti yang terjadi pada Kiai Ashari di Pati, Jawa Tengah, hingga kasus pencabulan yang berujung pada pembakaran Ponpes di Lampung.
Terbaru, Polisi menetapkan pengasuh Ponpes di Jepara sebagai tersangka kasus kekerasan seksual terhadap santriwati dan kasus sodomi santri di Lombok Tengah.












