Aylawati Sarwono: Pahlawan Emansipasi dengan 17 Surat

Pertunjukan seni Tembang Alit Kartini di Gedung Perpustakaan Nasional RI Jakarta Pusat merupakan penghormatan untuk memperingati Hari Kartini. Acara ini diselenggarakan oleh Aylawati Sarwono, seorang tokoh seni yang juga menjabat sebagai produser eksekutif. Aylawati Sarwono dikenal sebagai CoFounder Jaya Suprana School of Performing Arts dan Direktur Utama MURI. Tembang Alit Kartini adalah komposisi solo piano pertama dari budayawan Jaya Suprana yang diciptakan pada tahun 1984. Pertunjukan tersebut merefleksikan pemikiran dari Sang Pahlawan Emansipasi, yaitu RA Kartini.

RA Kartini memulai menuliskan pemikirannya pada tahun 1899 saat berusia 20 tahun, dan pemikirannya masih relevan hingga saat ini. Dampak dari pemikiran Kartini terasa kuat, dengan memberikan perempuan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai bidang. Bahkan, Indonesia telah memiliki presiden perempuan sebagai salah satu hasil dari perjuangan Kartini. Meskipun Kartini tidak sempat melihat hasil dari perjuangannya karena wafat di usia muda saat melahirkan, namun warisannya tetap mempengaruhi banyak orang.

Tembang Alit Kartini menyajikan 17 surat pilihan dari 194 surat yang ada, disusun secara urut untuk memberikan cerita yang utuh. Konsep pertunjukan ini melibatkan sejarah dari Kartini yang mulai dari berkenalan dengan gadis Belanda, berkorespondensi, hingga menerima lamaran Bupati Rembang. Aylawati Sarwono mengungkapkan bahwa bagian paling menantang dalam persiapan adalah membuat semua elemen tersebut terhubung dalam sebuah narasi teater yang kohesif dan memikat.

Source link