Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) memprediksi Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada Sabtu (21/3) karena posisi hilal yang masih berada di bawah kriteria imkan rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU). Data falakiyah menunjukkan bahwa tinggi hilal di Indonesia pada Kamis (19/3) atau 29 Ramadan berkisar antara 0 derajat 49 menit hingga 2 derajat 53 menit, dengan elongasi hilal berada di rentang 4 derajat 36 menit hingga 6 derajat 09 menit.
Meskipun posisi hilal telah di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia, hal ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal versi Nahdlatul Ulama, yang menempatkan hilal pada zona istihalah al-rukyah atau secara teoritis tidak mungkin terlihat. LF PBNU menegaskan bahwa rukyatul hilal tetap dilaksanakan pada Kamis petang sebagai bagian dari kewajiban fardlu kifayah, dengan pengamatan dilakukan di berbagai titik di Indonesia oleh jejaring Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) menggunakan berbagai metode.
Penetapan awal Syawal akan menunggu hasil sidang isbat pemerintah sebagai dasar PBNU dalam menyampaikan ikhbar kepada warga Nahdlatul Ulama. Apabila dalam rukyatul hilal tidak terdapat laporan terlihatnya hilal, maka Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal, sehingga 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu. Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat untuk menentukan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah, sedangkan Muhammadiyah sudah menetapkan Idulfitri 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026 sesuai dengan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Perbedaan penetapan ini sering terjadi karena metode yang berbeda dalam menentukan awal bulan Hijriah.








