Ubisoft, perusahaan gaming raksasa asal Prancis, mengalami kondisi kritis yang memaksa mereka untuk melakukan restrukturisasi besar-besaran. Hal ini terjadi setelah serangkaian kegagalan penjualan game mereka dalam dekade terakhir. Dalam sebuah pengumuman melalui press release, alasan di balik keputusan ini disebut berasal dari pasar game yang semakin selektif, persaingan tinggi dalam genre shooter, dan tantangan dalam menciptakan brand baru dengan biaya pengembangan yang semakin tinggi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Ubisoft akan lebih fokus mengembangkan game open world adventures dan pendekatan Games as a Service (GaaS). Mereka juga akan meningkatkan investasi dalam teknologi canggih seperti Generative AI. CEO Ubisoft, Yves Guillemot, mengungkapkan bahwa perusahaan akan memfokuskan pada roadmap baru selama 3 tahun yang akan memotong biaya. Ini berarti beberapa game akan dibatalkan, beberapa studio game akan ditutup, dan PHK massal akan terjadi baik di studio Halifax, Abu Dhabi, maupun Massive.
Proyek Prince of Persia: The Sands of Time Remake merupakan salah satu game pertama yang terdampak kebijakan restrukturisasi ini. Lima game lain juga mengalami pembatalan karena tidak memenuhi standar kualitas baru yang ditetapkan. Pertanyaannya, apakah dengan restrukturisasi ini, Ubisoft akan mampu menghasilkan game yang lebih baik di masa depan?












