Banjir bandang telah melanda puluhan kabupaten dan kota di tiga provinsi di Sumatra, yaitu Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat. Banjir ini telah menyebabkan kerugian besar, termasuk dalam jumlah korban jiwa, akses transportasi, dan komunikasi. Menurut laporan terbaru dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 174 orang dilaporkan meninggal dunia, 79 orang hilang, dan 12 lainnya terluka akibat banjir ini.
Pemerintah melalui BNPB telah berupaya untuk menyalurkan bantuan darurat seperti sembako, kit kebersihan, kasur lipat, makanan siap saji, dan perlengkapan lainnya ke lokasi bencana yang terdampak. Di Sumatra Utara, banjir telah menelan korban jiwa terbanyak, terutama di wilayah Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Akses transportasi dan komunikasi terhambat di beberapa wilayah, menyulitkan proses penyaluran bantuan dan evakuasi korban.
Sementara di Provinsi Aceh, BNPB mencatat 35 orang meninggal dunia, 25 orang hilang, dan 8 luka-luka akibat banjir. Pengungsian telah dilakukan di 20 kabupaten/kota, termasuk di Kota Lhokseumawe. Akses transportasi mengalami kerusakan signifikan di beberapa wilayah Aceh, dengan beberapa jalur darat terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan.
Di Sumatra Barat, korban meninggal dunia mencapai 23 orang, dengan 12 orang hilang dan 4 lainnya luka-luka. Banyak titik pengungsian telah dibuka untuk menampung korban yang mengungsi. Sarana transportasi, seperti jembatan dan jalan raya, mengalami kerusakan parah, sementara BMKG menyebutkan kondisi ini dipicu oleh Siklon Tropis Senyar yang menyebabkan curah hujan tinggi dan banjir bandang di beberapa wilayah.
Siklon Tropis Senyar juga memicu gelombang tinggi di wilayah Selat Malaka, Perairan Sumatra Utara, dan Perairan Rokan Hilir. Fenomena ini dianggap tidak umum dan menjadi perhatian utama bagi pihak berwenang dalam menangani dampak banjir dan longsor di wilayah tersebut.










