Usul Pembentukan Lembaga Awasi Bangunan Pasca Tragedi Al Khoziny

Tragedi robohnya Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, memunculkan desakan agar pengawasan bangunan tidak lagi dibiarkan berjalan seadanya. Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali menilai pemerintah perlu segera membentuk lembaga khusus yang bertugas memeriksa kelayakan konstruksi dan memastikan setiap bangunan benar-benar aman sebelum digunakan.

Desakan Pengawasan Bangunan Lebih Ketat

Ahmad Ali menyebut peristiwa di Sidoarjo sangat mungkin berkaitan dengan persoalan konstruksi. Karena itu, menurut dia, sertifikasi bangunan harus menjadi bagian penting dalam sistem pengawasan, dan lembaga pengawas perlu hadir hingga tingkat kabupaten atau kota. Langkah itu dinilai penting agar bangunan yang tidak memenuhi standar bisa terdeteksi lebih awal sebelum menimbulkan korban jiwa.

“Kasus di Sidoarjo kemungkinan besar dikarenakan masalah konstruksi. Oleh karena itu, penting untuk mendapatkan sertifikasi bangunan dan meletakkan lembaga ini di setiap kabupaten atau kota untuk mencegah terjadinya kasus serupa,” kata Ahmad Ali dalam pernyataan resmi yang diterima Antara, Senin.

Empati untuk Korban dan Keluarga

Selain mendorong pembenahan sistem, Ahmad Ali juga menyampaikan keprihatinan atas musibah yang menimpa Al Khoziny. Ia berharap keluarga korban diberi kekuatan menghadapi situasi berat ini. Menurutnya, bantuan tidak cukup hanya berbentuk material, tetapi juga harus menyentuh pemulihan psikologis para korban dan keluarga yang terdampak trauma.

Ali menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, solidaritas dan saling membantu menjadi hal yang sangat penting. Ia menilai proses evakuasi maupun rehabilitasi korban harus dijalankan dengan semangat kebersamaan agar beban para penyintas tidak semakin berat.

Proses Evakuasi Masih Berlangsung

Sementara itu, upaya pencarian dan evakuasi korban dari reruntuhan terus dilakukan. Hingga Senin, total jenazah yang berhasil dievakuasi mencapai 66 orang, dengan tujuh di antaranya berupa potongan tubuh. Kasubdit RPDO Bencana dan KMM Basarnas, Emi Freezer, mengatakan dalam satu hari petugas gabungan berhasil mengevakuasi 13 jenazah dan 10 potongan tubuh dari lokasi kejadian.

Di hari ke-8, petugas juga mencatat sudah ada 13 korban dan dua potongan tubuh yang berhasil dievakuasi dari sektor A3 dan A2. Data ini menunjukkan bahwa proses penanganan reruntuhan masih menjadi pekerjaan besar, sekaligus mengingatkan bahwa evaluasi terhadap keselamatan bangunan tak bisa lagi ditunda.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.