Abitkain: Memperingati 10 Tahun Mempopulerkan Ulos secara Global

Abitkain Rayakan 10 Tahun, Ulos Batak Makin Percaya Diri di Panggung Global

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah label mode yang bertumpu pada warisan budaya. Namun bagi Abitkain, satu dekade justru menjadi bukti bahwa ulos tidak berhenti di ruang tradisi. Di tangan pendirinya, Erfan Ucok, kain khas Batak itu diolah menjadi busana kontemporer yang lebih dekat dengan selera masa kini tanpa kehilangan akar maknanya.

Sejak awal, langkah Abitkain memang digerakkan oleh misi yang sederhana tetapi ambisius: memperkenalkan ulos ke dunia. Erfan memandang ulos bukan sekadar material fesyen, melainkan simbol kasih, doa, dan pengingat tentang perjalanan hidup manusia. Pandangan itulah yang kemudian membentuk karakter desain Abitkain selama 10 tahun terakhir, dari kain tradisi menjadi karya mode yang punya ruang di tengah industri modern.

Ulos Dibawa ke Bahasa Mode Kontemporer

Dalam perjalanannya, Abitkain berhasil mengubah cara pandang terhadap ulos. Jika dulu kain ini lebih sering dipahami dalam konteks adat dan seremoni, kini Abitkain menghadirkannya dalam bentuk yang lebih fleksibel dan relevan untuk penggunaan sehari-hari. Transformasi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama label ini, karena mampu menjembatani warisan budaya dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.

Perayaan 10 tahun ini juga menjadi penanda bahwa produk berbasis budaya lokal tidak harus berhenti sebagai identitas daerah. Dengan pendekatan desain yang lebih segar, Abitkain menunjukkan bahwa ulos dapat masuk ke ranah fashion yang lebih luas, sekaligus tetap membawa pesan budaya yang kuat.

Tampil di Market Find Expo 2025 Bali

Momentum perayaan itu semakin terasa saat Abitkain ambil bagian dalam Market Find Expo 2025 di Bali. Dalam ajang tersebut, mereka menggelar fashion show yang menampilkan delapan koleksi terbaru dengan tema “Celebrating Heritage in Modern Style.” Koleksi itu menjadi cara Abitkain memperlihatkan bagaimana warisan Batak bisa diterjemahkan ke dalam busana yang lebih modern tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Keikutsertaan di pameran internasional ini juga membuka ruang yang lebih luas bagi Abitkain untuk menjangkau pasar global. Bagi Erfan, partisipasi semacam ini bukan hanya soal tampil di panggung besar, melainkan juga tentang membuktikan bahwa karya berbasis budaya Indonesia punya daya saing di luar negeri.

Dorongan untuk UKM dan Diplomasi Budaya

Market Find Expo 2025 disebut memberi peluang ekspor baru bagi UKM Indonesia, sekaligus membantu pelaku usaha menembus pasar internasional. Dalam konteks itu, Abitkain menjadi contoh bagaimana produk kreatif lokal dapat ikut mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia.

Melalui Abitkain, Erfan mengajak publik untuk terus memberi ruang bagi karya anak bangsa. Bagi dia, merayakan budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku. Ulos justru bisa hidup lebih lama ketika diberi sentuhan baru, dipakai dalam kehidupan modern, dan dibawa ke panggung yang lebih luas.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.