Febby Rastanty Mencoba Pecahkan Rekor Pribadi di Half Marathon

Febby Rastanty mengaku mendapat pelajaran penting dari lintasan lari yang tidak berjalan sesuai rencana. Aktris sekaligus pegiat olahraga itu menilai, kecepatan yang terlalu agresif di awal justru membuat tubuhnya membayar mahal di bagian akhir lomba.

Terburu-buru di awal, drop di kilometer akhir

Febby Rastanty blak-blakan soal kesalahan strategi yang ia buat saat mengikuti lomba lari. Ia mengaku melaju terlalu cepat pada 25 kilometer pertama, padahal tenaga tubuh seharusnya dijaga untuk fase penentuan. Akibatnya, saat memasuki kilometer 26 hingga garis finis, kondisi fisiknya menurun drastis. Kaki terasa pegal, perut mulai kram, dan rasa tidak nyaman terus ia rasakan hingga lomba selesai.

Dalam rentang kilometer 25 sampai 42, Febby hanya bisa bertahan sambil terus berdoa dan meremas kakinya agar tetap kuat. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa lari jarak jauh bukan sekadar soal niat dan tenaga, tetapi juga soal membaca ritme tubuh dengan tepat.

Belajar mengatur strategi untuk half dan full marathon

Dari pengalaman tersebut, Febby menyadari pentingnya menyusun strategi yang lebih matang di setiap lomba, baik half marathon maupun full marathon. Menurutnya, kecepatan yang tidak terkontrol di awal bisa berisiko besar ketika tubuh mulai memasuki fase kelelahan. Karena itu, ia kini ingin lebih disiplin dalam mengatur tempo agar performanya tetap stabil sampai garis akhir.

Kesadaran itu juga menjadi bekal bagi Febby untuk menghadapi tantangan lari berikutnya. Ia tampaknya tak ingin mengulang kesalahan yang sama, terutama di ajang-ajang besar yang menuntut konsistensi dari awal hingga akhir.

Target berikutnya: lengkapi World Marathon Majors

Tahun ini, target Febby adalah menuntaskan World Marathon Majors. Sejauh ini, ia sudah mengoleksi lima medali dari berbagai marathon internasional. Satu medali lagi masih harus ia kejar sebelum usianya genap 30 tahun, yakni dari ajang New York.

Sebelumnya, Febby telah berpartisipasi dalam marathon di Tokyo, Chicago, London, Berlin, dan Boston. Rangkaian pengalaman itu menunjukkan bahwa ia bukan hanya sekadar mencoba-coba, melainkan serius membangun pencapaian di dunia lari jarak jauh.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.