Berita  

Polresta Banjarmasin menangkap 15 remaja yang menyerang warga dengan menggunakan senjata tajam.

Polresta Banjarmasin kembali dihadapkan pada kasus kekerasan yang melibatkan remaja. Sebanyak 15 remaja bermotor ditangkap setelah diduga menyerang warga dengan senjata tajam di wilayah Banjarmasin Selatan, Kalimantan Selatan. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu dini hari sekitar pukul 00.10 Wita dan langsung menyedot perhatian aparat karena korban bukan bagian dari kelompok yang terlibat, melainkan warga yang sedang melintas.

Ditangkap setelah laporan warga

Kepala Polresta Banjarmasin Komisaris Besar Polisi Sabana Atmojo menjelaskan, penangkapan dilakukan setelah polisi menerima laporan dari masyarakat. Petugas gabungan kemudian bergerak dan mengamankan 15 remaja beserta sejumlah senjata tajam serta lima sepeda motor yang digunakan dalam aksi tersebut. Dalam konferensi pers di Mapolresta Banjarmasin, Sabtu, Sabana menyebut para pelaku terdiri dari pelajar dan ada pula yang sudah putus sekolah.

Empat orang dilaporkan terluka akibat serangan itu dan kini sudah mendapat perawatan di rumah sakit setempat. Polisi belum memandang kejadian ini sebagai sekadar tawuran biasa, sebab dalam pemeriksaan awal terungkap adanya unsur perencanaan, pembagian tugas, hingga penggunaan media sosial untuk mengatur pergerakan kelompok.

Berawal dari rencana tawuran yang tak bertemu

Menurut keterangan para remaja yang ditangkap, aksi itu bermula dari dua kelompok yang sebenarnya berniat tawuran. Namun, mereka tidak saling bertemu di lokasi yang disepakati. Situasi itu justru berubah menjadi penyerangan spontan terhadap pengguna jalan yang kebetulan melintas. Alasannya, para pelaku mengaku tidak terima dilihat korban dan ingin melampiaskan amarah.

Sabana mengatakan, para remaja tersebut tampak berupaya menunjukkan eksistensi agar mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Ia menilai pola seperti ini harus dibaca sebagai kenakalan remaja yang berkembang menjadi ancaman serius, apalagi melibatkan anak di bawah umur.

Peran media sosial dan ajakan patroli warga

Dari hasil pemeriksaan sementara, kelompok ini membagi peran sebelum bergerak. Ada yang mengoordinasikan lewat media sosial, mengumpulkan massa, menyiapkan senjata tajam, memberi informasi lokasi, hingga melakukan dokumentasi di lapangan. Pola itu menunjukkan bahwa aksi mereka tidak sepenuhnya spontan, melainkan disusun dengan alur yang cukup rapi untuk ukuran remaja.

Sabana menegaskan kasus tersebut tidak boleh dibiarkan berkembang karena menyangkut masa depan anak-anak dan keamanan masyarakat. Ia juga menyebut akan menggelar pertemuan dengan pemerintah daerah pada Senin, 13 November, untuk membahas langkah pencegahan yang lebih luas. Menurutnya, pendidikan dan pengawasan remaja bukan hanya tugas kepolisian, tetapi tanggung jawab bersama semua lembaga dan lingkungan keluarga.

“Saat petugas melaksanakan patroli, tolong laporkan segera ke petugas jika melihat aksi anak remaja yang mencurigakan,” ujar Sabana.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.